Panah Beracun Senjata Berburu Masyarakat Mentawai


Facebook 400 Google Plus 405 Twitter 34

SASARAINAFM.COM, TUAPEJAT — Tak ubahnya dengan penduduk asli daerah pedalaman lainnya di Dunia, Panah atau dalam bahasa Mentawai disebut Rou-rou merupakan senjata bagi masyarakat Mentawai untuk berburu hewan buruan di dalam hutan serta menjadi perisai dalam melawan musuh, namun memiliki ciri khas tersendiri, berbeda dari daerah lainnya.

Busur Rou-rou Mentawai yang terbuat dari batang pohon poula (pohon aren-red) yang ditarik dengan iktek (tali-red) yang terbuat dari kulit kayu yang dalam bahasa Mentawai disebut pohon koka memiliki ketahanan yang cukup lama.

Aman lauk-lauk salah seorang pemanah dari suku pedalaman Mentawai mengatakan busur Mentawai memiliki panjang 2 meter ukuran dewasa, sedangkan talinya sampai 1,5 meter, namun ukuran tersebut bisa saja berbeda dengan yang lain sesuai selera pemanah sendiri.

"Kalau ukuran sebenarnya tergantung selera dari masing-masing pemanah, namun biasanya unkuran yang dipakai pemanah itu dua meter, " terang Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Mentawai Matheus Samalinggai kepada sasarainafm.com saat mendampingi aman lauk-lauk, pada kamis (01/11) di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan.

Silogui (anak panah) sendiri terbuat dari totoan (pelapah sejenis pohon duri-red) ukurannya juga tergantung selera pemanah disesuaikan dengan ukuran busur, bisa saja satu meter atau lebih. Sedangkan anak panahnya terbuat dari kayu pilihan masyarakat setempat menyebut kayu Laek-laek. Anak panah sendiri memiliki dua versi satu runcing digunakan menyasar buruan moyet dan satu lagi tunung anak panah berbentuk kartu as yang diraut tajam untuk memanah babi.

Peracik Racun Panah Dianjurkan Berpuasa

Racun panah Mentawai terkenal ampuh bisah melumpuhkan buruan dalam hitungan menit, racun ini dibuat dari bahan-bahan alami tanpa bahan kimia atau campuran zat lainnya, bahannya mulai dari yang manis, pahit, hingga pedas antara lain air tebu, akar tuba, lengkuas, arang kayu bekas asapan tungku dapur dan cabe rawit.

"Bahannya semua alami tanpa bahan kimia dan banyak di Mentawai dan gampang dicari. Bahannya diparut halus dan diulek hingga halus, kemudian diperas hingga mengeluarkan sari patinya, nanti sari patinya dioles pada ujung anak panah, " papar Matheus menjelaskan kata aman lauk-lauk.

Setelah panah dioleskan racun, lalu dijemur hingga kering, kemudian dioles lagi dan dijemur lagi begitu seterusnya, semakin sering dilakukan, maka semakin tinggi pula kadar racun diujung panah tersebut.

 

"Selama proses peracikan racun, peracik harus konsentrasi dan anjurkan untuk berpuasa tidak makan dan tidak minum serta diiringi nyanyian Mentawai, " tuturnya.

Otcai  Hasil Buruan Dibagi-bagi Ke Sesama Keluarga.

Otcai istilah bagi masyarakat setempat yaitu membagi-bagikan daging hasil buruan ke sesama keluarga, dimana pembagian tersebut dilakukan secara adil agar tidak terjadi cemburu sosial.

Berburu pun dilakukan oleh sekelompok laki-laki dewasa secara bersama-sama dalam satu suku yang dikomandoi oleh sikebbukat orang yang dituakan dan berpengalaman dalam perburuan.

Sama halnya dengan meracik omai para pemburu dianjurkan berpuasa selam berburu sampai hasil buruan didapatkan. Sebelum berburu laki-laki yang sudah berkeluarga juga dianjurkan untuk tidak berhubungan badan dengan istri.

"Ini kan kepercayaan masyarakat Mentawai sebelum berburu ada pantangan atau kei-kei yang tidak boleh dilanggar dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selam berburu, hewan buruannya antara lain rusa, babi, monyet dan burung," kata Matheus.

Mengenai Penulis

Author

Admin