Batra Panggang, Kuliner Khas Mentawai Diminati Pengunjung FPM 2018


Facebook 400 Google Plus 405 Twitter 34

SASARAINAFM.COM, MUNTEI - Kepulauan Mentawai selain terkenal dengan ombak dan keindahan alamnya, juga kaya budaya yang berbeda dengan pulau-pulau lain di Nusantara. Salah satu kekayaan Mentawai yang belum banyak diketahui semua orang yakni kekhasan kulinernya yaitu ulat sagu ("Batra" dalam bahasa Mentawai).

Kuliner khas Bumi Sikerei yang bisa dikatakan kuliner ekstrem ini ternyata sangat diminati pengunjung Festival Pesona Mentawai (FPM) 2018.

Hal itu dikatakan salah satu pedagang kuliner khas Mentawai yang tidak mau menyebutkan namanya itu saat dimintai keterangan Jum'at (2/11), "iya peminat batra ini cukup banyak" katanya singkat.

Bahkan dalam sehari, dirinya bersama dengan anggota kelompoknya mampu menjual 50-70 tusuk Batra panggang dengan harga Rp.10.000/tusuk.

Jumlah itu belum termasuk mereka yang makan di tempat. Tak jarang pula, pembeli harus kecewa lantaran Batra panggang keburu habis.

Kuliner yang satu ini,  selain tidak lazim dikonsumsi, bisa dibilang cukup “ekstrim”. 

Sesuai dengan namanya ulat sagu berasal dari pohon sagu.

Proses Pengambilan ulat sagu atau Batra dari batang pohon sagu biasanya dengan menggunakan alat tradisional seperti baliok (kapak khas Mentawai) untuk membelah batang pohon sagu. Hal ini dikarenakan ulat sagu biasanyanya akan berada pada bagian dalam batang pohon sagu yang sudah ditebang dan dibiarkan membusuk selama 2-3 bulan.

Bagi masyarakat Mentawai, ulat sagu atau Batra bisa dimakan secara langsung tanpa dimasak lebih dahulu. Hal ini sudah menjadi hal yang lumrah sejak zaman dulu kala nenek moyang orang Mentawai.

Selain dimakan mentah juga bisa disajikan dengan terlebih dahulu direbus,  digoreng, atau dicampurkan dengan masakan tumisan sayur.

Seperti diketahui kandungan gizi dari  ulat sagu atau Batra itu sendiri ditiap 100 gr  yang dimasak mengandung  protein sekitar 9,34%, juga terdapat beberapa kandungan asam amino esensial, seperti asam aspartat (1,84%), asam glutamat (2,72%), tirosin (1,87%), lisin (1,97%), dan methionin (1,07%).

Selain menjual Batra panggang, kelompok yang tergabung dalam PKBM Silibet Sibau KUM itu, juga menjajakan sagu kapurut, teggi' (keladi rebus), keripik singkong, keripik pisang dan kuliner khas Mentawai lainnya. (Nbl)

Mengenai Penulis

Author

Admin