YPBM Luncurkan Kamus Rereiket. Begini Harapannya Ke Pemkab Mentawai

Oleh : Suardi Santo | 01 Des 2019 | 12:53:46 WIB | Dilihat : 429 Kali
YPBM Luncurkan Kamus Rereiket. Begini Harapannya Ke Pemkab Mentawai

Keterangan Gambar : Salah satu kegiatan seni di Sanggar Uma Jaraik Sikerei desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan


mentawaikab.go.id_SIBERUT SELATAN - Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai (YPBM) meluncurkan Kamus Mattaoi Rereiket - Indonesia yang berisi Dialek Khusus Sarereiket, di sanggar Uma Jaraik Sikerei desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan, Sabtu (30/11).
 
Martisan Siritoitet, Media Publikasi dan Co Komunikator YPBM, mengatakan  kamus bahasa Sarereiket Siberut selatan- Indonesia yang diluncurkan itub berisi 181 halaman, sementara inisiatif pembuatannya dibantu oleh organisasi nirlaba Indigenous Education Foundation (IEF).
 
"Peluncuran kamus ini sesuai konteks tujuan global yang dideklarasikan PBB
bahwa tahun 2019 ini  merupakan International Year of Indigeneous Language,"  jelasnya
 
Selanjutnya, Martisan menyebutkan YPBM berkontribusi pada salah satu dari 17 Sustainable Development Goals (tujuan pembangunan berkelanjutan) internasional yang dideklarasikan UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) atau  organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
 
Ia menyatakan bahwa YPBM berkontribusi pada pengurangan kesenjangan budaya.
 
Sementara itu terkait pembuatan kamus itu sudah direncanakan sejak 2017 melalui beberapa tahap dan baru dieksekusi tahun 2019 pada awal bulan Februari hingga Oktober lalu. Diawali dari proses  penelitian atau survey bahasa di lapangan hingga percetakan kamus.
 
"Bagi warga  lokal atau Mentawai saat launching kamus Mattaoi Rereiket - Indonesia kita bagikan gratis. Tapi
sementara bagi wisatawan nusantara dan luar negeri membeli dengan harga Rp,200 ribu per paket," kata Martisan.
 
Bagi warga yang ingin membelinya dapat datang langsung ke sekretariat Yayasan Pendidikan Budaya Mentawai di Siberut Selatan.
 
Martisan lebih lanjut mengatakan  100% dari profit yang dihasilkan dari penjualan kamus itu akan dikembalikan  kepada Program Pendidikan Budaya dan Ekologi (PPBE) untuk membangun sanggar budaya dimana saat ini sudah berdiri 5 sanggar di Siberut Selatan.
 
"Semakin banyak profit, semakin banyak sanggar kita bentuk. Pada sanggar ini masyarakat bisa belajar budaya, seni tari, musik, lagu, obat-obatan, dan cerita rakyat," ujarnya.
 
Ia berharap hal tersebut menjadi contoh bagi generasi milenial Bumi Sikerei untuk menjaga identitas agar bahasa daerah tidak dilupakan dan menjadi fondasi budaya.
 
"80% resort di Mentawai dikuasai dan mengikuti lifestyle orang asing, jadi kita di YPBM bermimpi bisa berkolaborasi dengan Pemerintah membuat kebijakan bagaimana pada setiap resort, semua aktivitas dan stakeholder di sana memiliki ciri khas bahasa Mentawai, dan berkontribusi pada penjualan kamus Mentawai di lokasi strategis," harapnya.
 
Ke depan YPBM juga berharap pengembangan pariwisata di Mentawai tidak menghilangkan kearifan lokal seperti penggunaan bahasa Mentawai di area resort, seperti untuk penyebutan  toilet, kamar mandi, speedboat, dan kegiatan lainnya. (KS)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment